Lewati navigasi

Bulan Bahasa dan Sastra 2026 Hadirkan Pentas Sastra dan Literasi untuk Ruang Ekspresi dan Apresiasi Karya Generasi Muda

Diunggah oleh Administrator - 27 Oktober 2026




Bulan Bahasa dan Sastra 2026 Hadirkan Pentas Sastra dan Literasi untuk Ruang Ekspresi dan Apresiasi Karya Generasi Muda

Jakarta, 12 Oktober 2026—Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyelenggarakan Pentas Sastra dan Literasi (12—15 Oktober sebagai bagian dari rangkaian Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) 2026. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, memperkuat budaya literasi, serta menuangkan gagasan melalui karya sastra.
 
Kegiatan yang berlangsung di Panggung W.S. Rendra, Badan Bahasa, tersebut melibatkan komunitas sastra, pegiat literasi, dan pelajar di wilayah Jabodetabek. Rangkaian kegiatan mencakup pembacaan puisi, musikalisasi puisi, deklamasi, gelar wicara, dan bedah buku. Salah satu agenda utama sebagai pembuka Pentas Sastra dan Literasi ialah bedah dua kumpulan cerpen karya siswa SMP Islam Tugasku, yaitu Rahasia Langit di Gerbang Orchidia dan Great Wall Yonder.
 
Kedua buku tersebut menjadi bukti semangat generasi muda dalam mengembangkan gagasan dan menghasilkan karya melalui proses literasi di sekolah. Melalui sesi bedah buku, siswa tidak hanya memperoleh apresiasi atas karya yang telah dihasilkan, tetapi juga kesempatan untuk mendiskusikan proses kreatif dan menerima masukan guna meningkatkan kualitas tulisan mereka.
 
Kepala SMP Islam Tugasku, Imron Rasadi, mengapresiasi keberanian para siswa dalam menghasilkan karya sastra. Menurutnya, penerbitan buku tersebut bukan sekadar pencapaian dalam pembelajaran, melainkan bukti bahwa siswa memiliki gagasan, kreativitas, dan potensi yang perlu terus dikembangkan.
 
“Bagi kami, ini adalah perayaan keberanian kalian. Kalian berani berpikir, berani berimajinasi, dan berani berkarya. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan bukti bahwa anak-anak kita memiliki kreativitas dan potensi luar biasa yang harus terus dikembangkan,” ujarnya.
 
Ia juga berpesan agar para siswa tidak takut memulai proses kreatif meskipun tulisan mereka belum sempurna. Menurutnya, kemampuan menulis membutuhkan ketekunan, latihan, serta keterbukaan untuk menerima kritik dan saran.
 
Sementara itu, Plt. Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Hidayat Widiyanto, menekankan pentingnya membaca sebagai fondasi utama dalam membangun kemampuan menulis. Ia menjelaskan bahwa proses menghasilkan tulisan yang bernas dan bermanfaat tidak terlepas dari kebiasaan membaca, melakukan pengamatan, serta mengembangkan gagasan.
 
“Menulis tidak bisa dilepaskan dari membaca. Jika kalian ingin menjadi penulis hebat, kalian harus banyak membaca karena membaca merupakan bagian dari kebutuhan untuk memperkaya gagasan dan mengekspresikan diri,” tuturnya.
 
Hidayat juga mengingatkan para siswa mengenai kedudukan bahasa Indonesia dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya ikrar ketiga Sumpah Pemuda yang menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ia mendorong generasi muda untuk terus mengembangkan kemampuan literasi dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi tuntutan pembelajaran.
 
Dalam sesi bedah buku, Eko Marini selaku pembedah sekaligus Ketua BBS 2026 mengapresiasi keberagaman tema, pilihan kata, dan kemampuan siswa dalam mengembangkan imajinasi. Kumpulan cerpen Rahasia Langit di Gerbang Orchidea mengangkat sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan anak dan remaja, seperti perundungan, Kelelahan remaja saat dicap anak bandel tanpa mau didengar alasannya, dan rasa kesepian remaja akibat kurangnya komunikasi efektif di rumah. Sementara itu, kumpulan cerpen Great War Yonder menghadirkan cerita fiksi sains yang mengangkat tema alam, integritas moral, dan persahabatan.
 
Menurut Eko, cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa siswa tidak hanya mampu membangun imajinasi, tetapi juga menghadirkan refleksi dan gagasan pemecahan masalah bagi pembaca. Ia turut menyoroti penggunaan diksi, majas, dan metafora yang memperkaya penyampaian cerita.
 
“Pilihan kata, majas, dan metafora yang digunakan sangat menarik. Imajinasi mereka juga bagus, dan mereka mampu menyampaikan gagasan dengan cara mereka sendiri. Ke depan, permainan alur masih bisa dikembangkan agar pesan dalam cerita dapat tersampaikan secara lebih kuat,” ungkapnya.
 
Proses kreatif penulisan karya siswa juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Fasilitator penulis cilik, Lala, yang menjelaskan bahwa Sekolah Islam Tugasku telah menjalankan program literasi yang menjadi wadah bagi siswa untuk bertukar pikiran, mengumpulkan ide, mengembangkan gagasan, serta memperoleh pendampingan dalam proses penulisan dan penyuntingan naskah.
 
Para siswa penulis, termasuk Keisha dan rekan-rekannya, turut membagikan pengalaman selama proses kreatif. Mereka mengungkapkan bahwa gagasan cerita muncul dari berbagai sumber, mulai dari pengalaman sehari-hari, pemikiran pribadi, hingga diskusi bersama teman. Pertukaran gagasan tersebut membantu mereka mengembangkan ide menjadi cerita yang dapat dinikmati pembaca.
 
Di sisi lain, guru dan fasilitator mengungkapkan bahwa keterbatasan waktu dalam menemukan ide dan menyelesaikan tulisan menjadi salah satu tantangan dalam proses penulisan. Selain itu, beragam hiburan digital juga menuntut siswa untuk lebih mampu menjaga konsentrasi dan konsisten dalam berkarya.
 
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan budaya literasi memerlukan pendampingan, lingkungan yang mendukung, dan kesempatan bagi siswa untuk mengapresiasi karya satu sama lain. Melalui proses menulis, siswa tidak hanya belajar menyusun cerita, tetapi juga mengembangkan daya kritis, kepekaan terhadap lingkungan, dan keberanian menyampaikan gagasan.
 
Selain bedah buku, dalam Pentas Sastra dan Literasi juga dimeriahkan dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Komunitas Van Der Wijck. Perpaduan pembacaan puisi dan musik menghadirkan pengalaman apresiasi sastra yang berbeda bagi para peserta. Melalui penampilan tersebut, puisi tidak hanya dinikmati melalui kata-kata, tetapi juga dihidupkan melalui irama, melodi, dan ekspresi sehingga pesan serta suasana yang terkandung di dalamnya dapat tersampaikan secara lebih mendalam.
 
Kegiatan dilanjutkan dengan Gelar Wicara yang bertajuk Proses Kreatif Musikalisasi Puisi oleh Tim Van Der Wijck. Dalam sesi ini, Bayu mengenalkan tahapan penggarapan musikalisasi puisi. Sementara itu, Rio menambahkan bahwa dalam musikalisasi puisi perlu menentukan konsep musikal dan memadukan unsur musik dengan kekuatan kata. Lebih lanjut Nafidz berharap melalui musikalisasi puisi dapat membuka wawasan peserta tentang beragam cara mengapresiasi dan mengekspresikan karya sastra sekaligus mendorong tumbuhnya kreativitas generasi muda dalam mengembangkan literasi melalui seni.
 
 
Pentas Sastra dan Literasi menjadi salah satu upaya Badan Bahasa untuk menghadirkan ruang apresiasi bagi komunitas sastra, pegiat literasi, dan generasi muda dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2026. Melalui kegiatan ini, Badan Bahasa mendorong penguatan literasi membaca dan menulis serta pengembangan kreativitas dan apresiasi sastra. Upaya tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang kritis, kreatif, dan mampu berkontribusi bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia untuk mewujudkan bahasa Indonesia bermartabat dan Indonesia berdaulat.