Senja Berpuisi di Badan Bahasa: Ruang Ekspresi dan Apresiasi Sastra
Diunggah oleh Administrator - 27 Oktober 2026
Jakarta, 19 Oktober 2026 — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyelenggarakan kegiatan Pentas Sastra dan Literasi pada12–15 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Panggung W.S. Rendra, Badan Bahasa tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan mengapresiasi karya sastra sekaligus memeriahkan Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) 2026.
Rangkaian Pentas Sastra dan Literasi ditutup dengan kegiatan yang bertajuk “Senja Berpuisi di Badan Bahasa”. Senja Berpuisi menghadirkan sastrawan, pelajar, mahasiswa, duta bahasa, pegiat sastra, komunitas sastra, dan masyarakat yang tampil di Panggung W.S. Rendra. Mereka menyajikan pembacaan puisi, musikalisasi puisi, teatrikal puisi dari karya puisi mereka sendiri atau puisi karya para sastrawan Indonesia. Selain itu, juga ada Gelar Wicara yang menghadirkan sastrawan Samsihono. Dalam gelar wicara tersebut didiskusikan proses menulis puisi dan cara mengapresiasi puisi. Lebih lanjut, Samsihono menyampaikan bahwa puisi sebagai cara merawat kehidupan, bagaimana pengalaman sehari-hari dapat diwujudkan menjadi puisi melalui perhatian, pilihan kata, dan kesediaan memahami kehidupan orang lain.
Kegiatan ditutup oleh Hidayat Widiyanto, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra. Dalam sambutannya, Hidayat menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan, baik panitia dari Badan Bahasa maupun pihak di luar Badan Bahasa, Duta Bahasa, serta seluruh pihak yang terlibat dalam Pentas Sastra dan Literasi dan Senja Berpuisi.
“Atas nama tuan rumah, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah melaksanakan dan memeriahkan kegiatan Pentas Sastra dan Literasi serta Senja Berpuisi,” ujar Hidayat dalam sambutannya.
Hidayat juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perayaan BBS, tetapi juga menjadi momentum untuk membuka ruang ekspresi bagi masyarakat melalui karya sastra.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan menjadi akhir dari pemanfaatan Panggung Badan Bahasa sebagai ruang ekspresi. Badan Bahasa justru membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terus menghadirkan berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan di lingkungan Badan Bahasa.
“Ini bukan yang terakhir. Kami mengundang teman-teman untuk dapat mengekspresikan diri melalui karya-karya sastra di ruangan ini, di lapangan ini, melalui kegiatan-kegiatan yang lain,” tutur Hidayat.
Lebih lanjut, Hidayat mengundang komunitas sastra, komunitas literasi, sekolah, dan kelompok sastra lainnya untuk memanfaatkan panggung Badan Bahasa sebagai ruang untuk menampilkan serta mengembangkan karya. Keterbukaan tersebut diharapkan dapat mendorong keberlanjutan berbagai kegiatan sastra dan literasi serta memperluas ruang apresiasi bagi masyarakat.
“Jika komunitas sastra, komunitas literasi, sekolah, atau kelompok-kelompok sastra yang lain ingin mengekspresikan diri di panggung ini, kami mengundang dengan senang hati untuk meneruskan dan merayakan hal-hal baik yang telah dilakukan,” ungkapnya.
Rangkaian Pentas Sastra dan Literasi serta Senja Berpuisi menjadi salah satu bentuk upaya Badan Bahasa dalam menghadirkan ruang publik yang dapat mempertemukan masyarakat dengan karya sastra dan literasi. Melalui ruang tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penikmat karya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan mengekspresikan gagasan melalui berbagai bentuk karya sastra.
Melalui Senja Berpuisi di Badan Bahasa, semangat tema BBS 2026, “Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat,” diwujudkan melalui ruang apresiasi dan kolaborasi yang mendorong masyarakat untuk mencintai, menggunakan, dan mengembangkan bahasa Indonesia serta menghargai karya sastra. Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga identitas, kebanggaan, dan simbol kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, keterlibatan komunitas, sekolah, dan kelompok sastra dalam berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga martabat bahasa Indonesia sebagai bagian dari upaya meneguhkan jati diri dan kedaulatan bangsa.

